Beginilah yang dirasa warga Banyuwangi sebelum kesurupan tentang ritual Keboan

Admin

Banyuwangi - Banyak warga Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi yang kesurupan meminta ritual Keboan digelar. Selama tiga hari sebelum kesurupan, warga merasa tidak bisa kemana-mana.

Seperti yang dirasakan Sali'in. Berdasarkan kesaksiannya, ia dipertemukan dengan seorang wanita tua berpakaian adat Jawa, dengan rambut di sanggul.

Sosok yang diyakini sebagai leluhur itu datang ke alam bawah sadar pelaku ritual Keboan (termasuk Sali'in) sejak 3 hari sebelum kesurupan. Selama 3 hari itu, pelaku Keboan dipastikan tidak bisa bangun dari tempat tidur.

"Tiga hari badan saya sangat berat, saya tidak bisa kemana-mana. Saya hanya bisa diam. Dada saya terasa sesak dan mata saya kabur," kata Sali'in, Jumat (13/8/2021).

Sosok Buyut yang dimaksud oleh Sali'in adalah Wongso Kenongo yang pernah dipercaya sebagai tokoh adat, yang makamnya berada di Dusun Cempokosari, Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi.

Dalam mimpinya, Sali'in melihat banyak kerbau datang ke rumahnya. Selain itu, ia juga melihat sosok wanita tua yang sedang menyiapkan sederet sesaji. Setelah sesaji selesai, wanita tua itu kemudian membawa Sali'in keliling desa hingga menuju makam nenek buyutnya.

“Nah di sini Buyut berpesan agar kegiatan ritual tetap diadakan,” imbuhnya.

“Kata Mbah Buyut, harus sabar dan jangan lupa bersyukur. Minta gelar selamat agar masyarakat desa selamat dari bencana,” lanjutnya.

Selain Sali'in, pelaku Keboan lainnya yang kesurupan adalah Tanoso. Dia mengakui bahwa dia tidak tahu apa yang dia katakan selama kesurupan. Ia hanya tahu dari video yang direkam warga.

Meski di masa pandemi ini ada larangan berkerumun, ia tetap menginginkan Kepala Desa Aliyan mengadakan ritual selamatan. Sesuai dengan keinginan dan adat istiadat yang telah diturunkan dari generasi ke generasi.

"Ini sakral dan harus dilakukan. Meski sederhana dan terbatas. Sebagai bentuk rasa syukur dan doa untuk keselamatan bersama," kata Tanoso, masih berlumuran lumpur.

Seperti diketahui, tradisi Keboan merupakan penyelamatan desa bersih yang memiliki nuansa mistis. Dilaksanakan setiap Bulan Suro oleh masyarakat Suku Osing di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi. Dalam pelaksanaannya, puluhan warga tiba-tiba kesurupan. Mereka bertingkah seperti kerbau.


Tradisi Keboan konon sudah dilakukan sejak zaman Kerajaan Blambangan. Itulah peninggalan kakek buyut Wongso Kenongo yang makamnya berada di Dusun Cempokosari, Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi. Ritual ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian yang melimpah sepanjang tahun.